'Saya
kaget, mengapa saya dapatkan uang sebanyak itu, saya takut dipenjara
karena mendapatkan kelebihan uang yang bukan hak saya,” kata Pak Waras
polos
“Saya sudah biasa hidup susah seperti ini. Karena
itu, saya tidak mau hidup kami bertambah susah kalau makan harta yang
bukan hak kami,” tambahnya menegaskan.
Kalimat lugas di atas
bukanlah penggalan kalimat hiperbolis yang biasa diumbar dalam adegan
sinetron picisan yang acap kali ditayangkan stasiun TV. Atau
pilihan-pilihan kata yang sengaja disiapkan untuk menarik perhatian
publik agar terlihat bermoral.
Kata-kata itu pastinya keluar dari
orang yang istimewa? Tidak! Dia bukan seorang ulama, bukan seorang
politisi, bukan seorang seniman, apalagi pengusaha. Rangkaian kata-kata
sederhana itu meluncur begitu saja seakan membangunkan tidur panjang
kita dari alam ketidakjujuran. Tutur katanya keluar tanpa beban,
sikapnya begitu membumi, bersahabat dan jauh dari keangkuhan, gayanya
begitu unik ‘ndeso’, dengan tawanya yang begitu lepas.
Pria
berbadan jangkung, bapak tiga anak ini sehari-hari, dikenal warganya
sebagai petani lugu. Namun, prinsip hidupnya sebagai warga desa yang
jujur ternyata masih utuh. Keluguan dan kejujuran tersebut teruji saat
dia menerima transfer uang muka ganti rugi dari PT Minarak Lapindo Jaya,
pertengahan Juli lalu.
Waras, Warga Desa Siring, Porong,
Kabupaten Sidoarjo masih tetap berotak dan berhati waras, meski ber
bulan-bulan menderita akibat rumahnya tenggelam luberan Lumpur panas
lapindo dan sulit mendapatkan makanan, tetapi tetap memiliki hati nurani
yang bersih. Kubangan Lumpur tidak serta merta mengotori hatinya, ini
dibuktikan ketika Waras mengembalikan “uang kelebihan” dari ganti rugi
yang diberikan manajemen PT Minarak Lapindo Jaya.
Pergulatan
batin bapak 3 anak itu bermula ketika Waras mengecek rekening untuk
menampung uang muka transaksi lahannya yang sudah tergenang lumpur.
Waras yang memang sudah menunggu 20 persen ganti rugi uang pembayaran
lahannya yang 2.440 meter persegi sebesar Rp 56 juta itu tak pernah
menyangka saldonya akan kelebihan hingga Rp 429 juta.
Idealnya,
dengan uang sebanyak itu Waras bisa berbuat banyak untuk keluarganya.
Apalagi kebutuhan keluarga mereka sudah semakin melambung setelah
menjadi korban langsung bencana lumpur. Dua dari 3 anaknya, Iswanto dan
Sri Wahyuni, sudah berstatus pengangguran karena pabrik tempatnya
bekerja ditutup karena lumpur.
Jumlah saldo itu bahkan jauh lebih
besar dari total nilai ganti rugi yang akan mereka terima sebesar Rp
398 juta. Tapi itulah Waras. Kepala keluarga ini merasa serba tak enak
gara-gara kelebihan uang ini. Bukan cuma tidak bisa tidur, Waras juga
mengaku tak enak makan. “Bukan cuma saya yang merasakan, tapi istri dan
anak-anak saya juga merasakan hal yang tak pernah kami rasakan
sebelumnya,” kata dia.
Sebelum situasi menjadi makin
berlarut-larut, keluarga amat sederhana ini kemudian mengeluarkan
keputusan. Menurut Waras, keluarga yang dipimpinnya kembali mengingatkan
tentang tujuan hidup mereka yang ingin tetap hidup adem-ayem tanpa
masalah.
Kepolosan warga desa ini juga tergambar dari
kekhawatiran bakal berurusan hukum bila tetap nekat menggunakan uang
tersebut. Suami Astiyah itu tak bisa membayangkan kelanjutan nasib anak
dan istrinya bila dirinya masuk penjara karena kesalahan yang tidak
dilakukannya itu.
Keluarga amat sederhana ini kemudian sepakat
mengambil keputusan untuk mengembalikan uang kelebihan tersebut, karena
falsafah hidupnya menginginkan hidup adem ayem tanpa masalah, sehingga
kepolosan warga desa ini tergambar dari kekhawatiran berurusan dengan
hukum, dan atas kejujurannya itu Waras menerima hadiah dari PT Minarak
Lapindo Jaya sebesar Rp. 40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) yang
merupakan relatif uang halal.
Bekerja keras, kelelahan, letih,
semua itu adalah rona kehidupan sehari-hari yang dijalani keluarga Pak
Waras. Dan hal itu telah menjadi batu-pengasah bagi hati dan jiwanya.
Kesusahan hidup, penderitaan hidup, jalannya perjuangan buat kehidupan,
buat cita-cita, buat kebaikan masarakat, apalagi buat bangsa dan negara,
semua itu menempa dirinya, menyepuh dirinya.
Pak Waras begitu
waras tentang keyakinan bahwa seseorang akan menjadi baja yang baik,
emas-intan dan permata yang baik, atau hanya loyang dan tembaga biasa
saja, malah hanya hamparan batu kerikil saja, atau bahkan sampah karena
ditentukan oleh lingkungan, dan diri sendiri. Olah dan ulah kita sendiri
akan menentukan watak diri kita, dan semua itu dijalani dalam spirit
perjuangan kehidupan itu sendiri.
Di era sekarang ini masih
adakah Waras-Waras lain? Yang telah begitu lugas memberikan contoh pada
kita semua tentang makna “Kejujuran”. Di mana fenomena palsu dan
ketidakjujuran sudah menjadi salah satu penyakit dari orang yang hendak
menginginkan suatu tujuan, baik jabatan maupun kekuasaan.
Kebohongan
dan ketidakjujuran menjadi iklim sehingga orang yang tidak bermaksud
bohong pun terpaksa harus berbohong. Lebih gawat lagi, kebohongan
menjadi sarana berkomunikasi, hanya dalam kebohongan komunikasi bisa
dijalankan. Dalam kondisi seperti itu jika masyarakat tidak
berkomunikasi dalam kebohongan, dan memakai bahasa kebohongan, mereka
akan ketinggalan dan tidak mendapatkan apa-apa.
Pembelajaran
–yang merupakan sikap jujur biasa dari Waras– itu sangatlah mengena di
tengah realitas kondisi sosial kemasyarakatan kita dewasa ini.
Seharusnya memang demikianlah sikap yang kita pilih ketika menghadapi
hal yang sama. Tetapi dapat dijaminkah “disiplin sosial” semacam itu
memancar dari setiap orang?
- Setiap organ yang ada di dalam tubuh Anda memiliki peranan penting masing-masing. Salah satu jenis organ yang paling sering dilupakan adalah ginjal. Ginjal adalah dua organ yang berbentuk seperti…
- Bagi Anda yang ingin terhindar dari diabetes, ada satu lagi makanan yang bisa menjadi kawan Anda: yogurt. Studi terkini di Inggris menemukan bahwa konsumsi yogurt dan produk susu fermentasi…
- Suka penasaran dan susah ditebak, mungkin itu anggapan Anda terhadap wanita yang sedang Anda dekati. Tetapi ada beberapa hal yang bisa dilihat dari sikap dan body language wanita saat dia tertarik…
- Daun kemangi, salah satu tanaman yang kerap dijadikan sebagai teman lalapan ternyata memiliki manfaat yang sangat besar bagi tubuh. Daun yang memiliki rasa yang khas ini tidak banyak disukai orang.…
- Menjaga gigi tetap bersih dan putih ternyata tidaklah sulit. Tak perlu merogoh kocek dalam hanya cukup menghindari makanan yang dapat membuat gigi menjadi berubah warna. Dikutip dari…
No comments:
Post a Comment